Sajak-Sajak Jen kelana dari Facebook
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Melodi Gerimis Malam gerimis seperti mengurai melodi ritmis..... aku terjebak dalam debat kusir antara sahabat yang mensitir dari Shakespeare hingga Lenin lalu bermuara pada aroma sangit daging kambing dan kami berpesta Padang, 21 September 2011 Merenda Kesangsian Subuh dalam kemelut kabut aku bersujud pada-Mu meski tersadar menghampiri masih juga menelurkan gelisah akan diri akan niat ini akan kesangsian sampaikah aku pada kekhusukan ? Padang, 21 September 2011 Memoar Hujan Senja terkulai... Read Full Story
Melahirkan Ide
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Source : http://kamuntiang.blogspot.com Menjelajahi pikiran yang lama tidak difungsikan, rasanya merupakan suatu pekerjaan yang muskhil. Namun tidak salahnya juga jika kita sedikit berusaha membuka cakrawala berpikirnya. Barangkali saja ada manfaatnya, untuk kita atau untuk orang lain. Dalam kurun waktu "menyepi" itu terkadang apa yang kita lakukan mengalir apa adanya. Justru di saat itu, segala ide yang sudah ada dalam pikiran tidak mudah untuk dimanifestasikan. Namun perlu waktu untuk... Read Full Story
Sajak-sajak Jen Kelana : Rindu
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
SESAL Bara masih mengepul debu dosa di altar pesakitan beterbangan berupa sayap-sayap Jibril menabur takdir            2002 RINDU MENGERUCUT Pada tikungan-tikungan jalan sudah kutabur lelaku antara cinta basa-basi dan nurani yang tercatat di selokan-selokan lalu bersitatap serupa marka jalan itu diam tanpa makna Rindu mengerucut ubun-ubun seperti kampung-kampung di pusaran masaku menindihhimpitkan rasa di arteri yang mengalir sepanjang kesat percik-percik wangi masa kecil             2002... Read Full Story
Cerpen Jen Kelana : SUATU WAKTU
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Jerit kesakitan tak sempat melangit. Tersangkut pada serupa dinding pekat, gelap dan hitam di keempat sisinya. Atap datar juga hitam. Hanya bisa mendengar sendiri. Di luar ? Tidak berbeda. Tidak ada siang dan malam. Di manakah ? Entahlah ! Hembusan anginpun tidak ada. Air ? Apalagi ! Tapi ? Pertanyaan lain tiba- tiba terangkai dalam kesepian yang menggigit ini. Lagi-lagi seperti jeirtan kesakitan, pertanyaan-pertanyaan itu tersangkut pada serupa dinding pekat di keempat sisinya. Di manakah... Read Full Story
Celoteh : Sajak "Sunyi" Uda Rizal
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Oleh : Jen Kelana Membaca, dalam arti menyimak sajak Uda Rizal lalu mengapresiasikannya dalam sebuah catatan kecil mestinya tidak begitu sulit. Namun bagi saya, tugas ini sungguh tidak mudah. Makanya saya terus berdalih dengan berbagai macam alasan yang seolah-olah masuk akal, ketika beberapa mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Bangko mendesak saya agar memberi sekedar “celoteh” terhadap sajak Uda Rizal berjudul awal : Sunyi. Coba kita simak sajak "Sunyi" berikut : S... Read Full Story
Perjalanan Ini
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Dalam kata "pergi" terkandung selaksa makna. Mungkin gairah barangkali resah. Sekelumit perjalanan kumulai, meski letih membutakan kisah ini maka jadilah aku turut terban di atas roda. Dalam sembelit rasa kutitipkan gairah. Walau di antara gagap tetap juga kurasakan resah. Menyimak Jarak kupastikan dalam jejak ini mengalir helaian senja rintik yang menyimak kata pada siapa pada yang mana pada kembara seumpama cahaya malam telah pula larut maka gelap juga akhirnya dan bila usai menarilah... Read Full Story
Seberkas Gundah
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Jalanan tak lagi sepi. Deru kendaraan membahana memecah aspal. Sementara angin seperti malas beranjak membawa pesan damai. Aku masih saja berdiri diantara kaki-kaki yang kian lelah melangkah. Ada keengganan, ada keraguan, ada kebimbangan merajai hati. Inikah sebuah pertanda ? Dalam keluh yang berkepanjangan, aku bergumam.... Di Sinilah.... Inilah kita wahai, sejumput beban dalam rajutan hari-hari Inilah kita Duhai, segenggam keniscayaan dalam rerumputan malam-malam Manakala setitik membias... Read Full Story
Sajak Jen Kelana : Sajak Miris
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
B entuk itu Bernama Seperti Kebenaran (1) Ketika tanah ini menjadi sarang drakula maka keheningan malam buram yang melahirkan sajak akan pupus juga bau amis darah menua berdifusi bersama angin yang enggan berhembus entah dari mana. Tanah ini mati tidak ada dengus nafas memburu seperti ketika tanah ini masih bernama bumi ketika huma masih membiaskan bianglala pelangi merah, kuning, hijau memprisma memetakan sketsa langit. Biru tidak setitikpun hitam hitam hanyalah noktah yang mengeratkan kelam... Read Full Story
SUATU WAKTU ITU
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Suatu waktu. Jerit kesakitan tak sempat melangit. Tersangkut pada serupa dinding pekat, gelap dan hitam di keempat sisinya. Atap datar juga hitam. Hanya bisa mendengar sendiri. Di luar ? Tidak berbeda. Tidak ada siang dan malam. Di manakah ? Entahlah ! Hembusan anginpun tidak ada. Air ? Apalagi ! Tapi ? Pertanyaan lain tiba- tiba terangkai dalam kesepian yang menggigit ini. Lagi-lagi seperti jeirtan kesakitan, pertanyaan-pertanyaan itu tersangkut pada serupa dinding pekat di keempat sisinya... Read Full Story
WS. Rendra : Sang Burung Merak telah Berpulang
| From : sastrafresh.co.cc
Not yet published.
Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah seorang yang fenomenal. Pada tanggal 6 Agustus 2009 dalam usia 73 tahun WS. Rendra meninggalkan kita dan kembali keharibaan yang Maha Kuasa. Mendung menggayut di bumi ini, seakan turut larut dalam duka. Wahyu Sulaeman Rendra (lahir sebagai Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Jakarta, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia... Read Full Story